28.10.14

Teruntuk kalian,

Dunia perkuliahan keras ya. Tapi dari kerasnya itulah lo bisa dapetin temen yang bro banget. Atau mungkin lebih tepatnya adalah temen yang super-duper-mega-ultra-ekstra-bro-banget. Sehidup semati, senasib sepenanggungan, seiya sekata. Hidup jauh dari orang tua bikin gue jadi hidup serba bareng temen. Seneng bareng-bareng, susah bareng-bareng, galau bareng-bareng, boker sendiri-sendiri.

Di sini, gue dengan sukses ketemu sama 2 makhluk yang bro abis. Mereka bukan yang terbaik sih. Yang satu suka labil, yang satu suka depresi. Ganteng? Standar. Baik? Biasa aja. Tajir? Kaga. Berprestasi? Well…yang ini iya sih. Pokoknya, mereka jauh dari kata sempurna. Tapi mereka pahlawan gue. Pahlawan yang sering banget seenak udel nyuruh-nyuruh bawain sarapan sama beliin jus tiap hari. Manusia-manusia jorok super mager yang kolornya aja ditaro di londrian bukannya nyuci sendiri. Walaupun mereka hina, tapi pas gue ada masalah, pas gue galau, pas gue sakit, pas gue gapunya makanan, pas nilai gue jelek, pas gue masih nomaden karena belom punya kosan, pas gue harus ke rumah bude bawa baju kotor seabrek, pas gue gapunya temen malem mingguan *pacarnya jauh di pamulang dan kuliahnya di depokL jarang nyamperinL #KODEKERASH haha:p*, ya gue perginya ke mereka. Merekalah yang gue cari di IPB. Bukan, ini bukan selingkuhan. Sumpah. Mati rasa kalo sama 2 spesies ini mah. Udah tau busuk-busuknyaL

Sebenernya kita saling kenal belom lama sih. Paling 1 taun sekian bulan. Baru deketnya juga paling belom sampe setaun. Tapi sumpah, masalah dan cerita yang gue laluin sama mereka udah seabrek. Kalo orang bilang, cewe yang suka main sama cowo itu cewe yang menghindari drama dari temenan sama cewe. Ah itu bullshit. I got pretty much drama even with these boys. Ga keitung udah berapa gosip yang kita bagi, udah berapa mimpi yang kita tulis, udah berapa rupiah yang keluar dari dompet untuk saling nraktir satu sama lain, udah berapa masalah yang terlewati. Dari yang satu kadang suka depresi kayak Marshanda, yang satu hapenya ilang di stasiun, yang dompet mereka kecurian sampe akhirnya nyokap-nyokap mereka dengan sukses bikin saldo rekening gue jadi berjuta-juta dalam hitungan detik, yang satu kisah cintanya ngambang kayak tai ayam di selokan, yang gue sempet terombang-ambingkan gapunya kosan dan nomaden, dan lain-lain-lain-lain sebagainya. Wesyeweleh segala macem rupa deh. Mereka yang ngasih warna di kehidupan ngampus gue yang jauh dari ftv ini.

Gue seneng bergaul sama orang-orang aneh kayak mereka. Ya soalnya gue juga aneh sih. Btw, dari tadi gue ga nyebut merk. Well, let me introduce my brothers, Anugrah Nurman Ibrahim & Jajang Jaelani.

Jajang-Andin-Uga

Cuma mau bilang terima kasih buat ke-bro-annya selama ini. Terima kasih udah mau dengerin sampahan-sampahan gue, terima kasih udah mau jadi tempat gue kabur selama di Bogor. Walaupun gue suka ngeluh capek nanggepin kalian, capek dengerin curhatan kalian, capek beliin kalian jus, tapi kalo ga ada kalian tuh rasanya kayak makan nasi padang pake sendok. Gak pas. Gak lengkap. Jadi jangan kemana-mana ya. Good luck buat kehidupan kalian, buat semua pencapaian kalian. Semoga semua usaha kalian akan dibalas sepadan sama Tuhan. Sayang kalian.

Dari yang paling baik dan paling cantik,

Andin.

18.10.14

The Fault in Our Stars

Halo. H-3 UTS. Ups, ralat. H-2. Ternyata sekarang sudah pukul setengah 1 dini hari.

Kalo diliat dari judul post kali ini....telat banget gak sih ngebahas film yang absolutely-sad-yet-so-incredibly-beautiful ini. Baru banget nonton film yang sempet booming beberapa bulan lalu. Film yang dulu gue lewatin gitu aja dengan pikiran "ah, klise". Film yang mengisahkan perjuangan hidup para penderita kanker; tentang mereka yang tidak memiliki keabadian, tetapi memiliki satu sama lain; tentang kisah cinta yang sudah sangat jelas akhirnya, kematian. Film yang sekarang bikin gue bercucuran air mata. Yang bisa gue yakinin, bukunya pasti jauh jauh jauuuuuuuuuh lebih menawan dari filmnya. Mungkin as soon as possible, gue akan membaca bukunya.

Jatuh cinta sama film ini. Sama ceritanya. Dan semua kata-katanya.
"Depresi bukanlah gejala untuk penyakit kanker. Depresi adalah gejala untuk manusia sekarat"
"Hal yang lebih mengenaskan dibanding mengidap kanker? Menjadi orang tua dari pengidap kanker"
"Hal yang paling kutakuti? Menjadi pelupa. Aku bermaksud membuat hidupku menjadi luar biasa dan diingat. Akan menjadi hal yang sangat mengjengkelkan bila aku menjadi pelupa" 
"Aku hanya mau bilang akan ada waktu dimana kita semua akan mati. Waktu itu bisa saja besok, atau 100 tahun lagi dari sekarang. Dan ketika waktu itu datang, kita tidak akan diingat seperti Muhammad Ali, Kleopatra, dan lainnya. Dilupakan itu sesuatu yang tidak bisa dihindarkan. Jadi bila kau takut dilupakan, abaikan saja. Tuhan juga tahu, itu yang semua orang lakukan"
"Kalau kau mau merasakan indahnya pelangi, kau harus mau melewati hujan" 
"Aku jatuh cinta padamu, Hazel Grace. Dan aku tahu kalau cinta itu hanyalah sebuah teriakan dalam kehampaan, dan pelupaan itu tak terhindarkan, dan bahwa....suatu hari....semua usaha kita akan berubah menjadi debu. Dan aku tahu, matahari akan menelan satu-satunya bumi yang kita miliki. Dan aku jatuh cinta padamu. Maaf:)" 
"Probably 'okay' will be our 'always'." 
"Andaikan risotto ini manusia, aku akan membawanya ke Las Vegas dan menikahinya"---------- "Kau tahu? Aku rasa aku setuju tentang ide Las Vegasmu. Aku boleh ikut?"
"Kau selalu ingin dikenang dan dicintai semua orang, Augustus. Bisakah kau lebih bersyukur? Yang kau punya hanya aku, keluargamu, dan dunia ini. Sudah. Apa itu tidak cukup? Apa itu masih kurang?" 
"Walaupun beberapa tahun lagi ada pasukan dokter yang datang dan menawariku mata robot, aku akan menolaknya. Karena aku tak akan kuat untuk melihat dunia tanpamu, Augustus. Well, mungkin aku akan tetap menerimanya. Mata robot! Kau tahu betapa kerennya itu" 
"Aku bukan ahli matematika, tapi aku tahu hal ini. Ada angka tak terhingga di antara 0 sampai 1. Kau tahu, seperti 0.1, 0.12, 0.112, dst. Dan tentunya ada angka tak terhingga yang lebih banyak lagi diantara 0 dan 2, 0 dan satu juta. Selalu ada yang lebih tak terhingga dari tak terhingga yang lain. Dan kau Augustus Walter, aku mencintaimu selamanya. Terimakasih untuk hal-hal tak terhingga, tak terbatas, di dalam waktuku yang terbatas" 
"Dan sekarang aku sadar, kata-kata pengantar dalam sebuah pemakaman, bukanlah dimaksudkan untuk orang yang mati, tapi untuk orang-orang yang hidup dan ditinggalkan"
"Aku orang baik, tetapi aku adalah penulis yang buruk. Dan kau, Van Houtten, kau adalah orang yang sangat buruk, tapi kau penulis yang baik. Kita bisa membuat kolaborasi yang sangat menakjubkan. Aku sudah berusaha menulis kata-kata untuk pemakaman Hazel, bisakah kau baca dan memperbaikinya? Ketika semua orang berharap untuk dikenang dan dipuja oleh semua orang, Hazel Grace malah merasa cukup dikagumi oleh satu orang. Mungkin Hazel Grace tidak dicintai secara liar, tapi dia dicintai secara mendalam."
"Pain demands to be felt" 
 Masih banyak lagi sih kutipan-kutipan yang gue suka.

Ketika kematian udah menjadi hal yang mutlak dan sangat jelas di depan mata. Ketika bahkan lo bikin gladi resik acara pemakaman lo sama orang-orang yang lo sayang, orang-orang yang senasib dan sepenanggungan sama lo. Ketika kehidupan definitely just a joke. Gue ter-amaze sama jalan pikiran Hazel tentang orang tuanya. Tentang gimana doi mikir dan takut, kalau doi mati, doi gamau orangtuanya jadi orang gila yang setiap hari cuma bengong depan tembok ngeratapin nasib dan jadi gapunya kehidupan. Gue ter-amaze sama gimana Augustus bisa setegar itu ngejalanin hidup dan terlihat kayak 'hey so what? I'm still alive, kenapa kita ga seneng-seneng aja selagi sempat?"

Hidup gapernah adil. Ga akan pernah adil. Mau lo nyembah-nyembah, guling-gulingan, mohon-mohon ke Tuhan, tetep aja hidup itu ga akan pernah adil. Karena Tuhan Maha Adil. Bukankah bisa disebut adil jika semua orang di dunia ini merasa hidup itu tidak adil? Haha, paradoks. Apa salahnya bersyukur dengan keadaan saat ini? Apa salahnya bersyukur dengan segala keterbatasan yang ada?

Rasanya pas nonton ini, kayak gue dibanting lagi ke masa-masa abege. Masa-masa 'duh-mau-punya-pacar-yang-giniginigini'. Tapi edisi lebih dewasa. Bukan, bukan lagi bentuk fisik sempurna yang diidam-idamkan. Bukan lagi dompet super tebel. Bukan lagi mobil yang bisa anter jemput. Tapi dia yang bisa menjadi teman hidup. Dia yang bisa melakukan hal-hal gila bersama lo. Dia yang berusaha ngeraih semua impian (sekalipun impian itu terlalu liar dan nyaris mustahil) bersama lo. Dia yang akan mencari lo ketika terjadi sesuatu. Dan dia yang akan lo cari ketika terjadi sesuatu. Dia yang bisa berkomunikasi. Karena semua orang tahu, reaksi kimia yang dinamakan 'cinta' itu ga akan bertahan lama. Ketika lo tua nanti, ketika lo dan pasangan lo udah kakek-nenek nanti, yang ada bukan lagi cinta. Tapi kasih sayang, dan tentunya komunikasi. Karena pas tua nanti, pas lo cuma bisa duduk dan ga lagi kuat buat jalan, yang lo butuhkan adalah teman hidup yang bisa berbagi dan nemenin lo ngobrol seharian.

Dia yang apa adanya. Dan dia yang melihat lo apa adanya. Nope, gue ga sehebat Mas Tulus yang justru menolak untuk dicintai apa adanya. Kadar egois gue masih terlalu tinggi untuk nurut sama orang yang menuntut gue untuk jadi seperti yang mereka pinta. Gue ya gue. Lo ya lo. Apa lagi yang harus diubah? We were born this way.

Pukul 2:11 AM. Makin jauh makin ngelantur. Dialog--uhm atau mungkin lebih cocok disebut monolog--dini hari ini rasanya harus dihentikan. Selamat pagi:)







P.S : I miss you, K. So much.

16.8.14

Thank God, blog udah gak se-rame dan se-ngehitz dulu. Itu artinya gue semakin bebas untuk berbacot-ria disini tanpa banyak orang yang ngeh dan tau. Well, untuk orang-orang yang kurang beruntung dan kesasar sampe ke sini, mohon maaf blog ini penuh dengan cerita-cerita dan buah pikiran yang super nyampah:')

btw.....
Dear blog, gue lagi super capek. Bukan fisik sih. Tapi pikiran.

Kalo kata kak Iwan Setyawan sih menulis itu membebaskan. Makanya sekarang gue nulis. Dengan harapan, ini bisa membebaskan gue dari kepenatan.

Kalo kata mbah Sudjiwo Tejo sih negeri ini terlalu banyak pagi dan kekurangan senja, terlalu banyak gairah dan kurang perenungan. Makanya sekarang gue merenung. Mencoba berkaca. Mencoba mengenali diri gue sendiri. Mencoba jujur terhadap diri sendiri. Mencoba menyadari apa aja kesalahan-kesalahan yang telah gue buat.

Gue capek. Mengenali diri sendiri ternyata susah ya. Jujur terhadap perasaan diri sendiri ternyata jauh lebih susah lagi. Setelah gue mencoba untuk merenung, ternyata gue lagi banyak masalah. Terlalu banyak masalah yang gue anggap ga ada, terlalu banyak masalah yang gue kacangin tanpa penyelesaian yang jelas. Coba, itu masalah atau martabak keju sih sebenernya. Kok dikacangin:( WK jayus:(

Ternyata gue kesepian. Beberapa hari ini gue pulang malem terus. Entah itu habis main atau rusuh sama placement test di EF. Yang jelas gue pulang malem setelah ketemu sama temen-temen gue deh. Gue ketawa lepas bacot segala macem seperti biasa pas sama mereka. Tapi pas sampe kamar.....jeng jeng jeng. Rasanya langsung sedih. Rasanya sepi. Rasanya gue sendirian banget gitu. Rasanya chat-chat yang rame di LINE itu sangat jauh dari nyata. Ternyata gue kesepian.

Akhir-akhir ini, gatau kenapa banyak banget orang yang curhat ke gue lewat LINE. Jujur, gue mulai kebingungan. Gue bingung harus nanggepinnya gimana. Walaupun gue tau, terkadang yang mereka butuhkan cuma pendengar yang setia, bukan nasehat-nasehat basi yang udah sering banget mereka denger. Tapi kan kalo lewat virtual chat macem LINE, mana bisa kita cuma ngangguk-ngangguk doang baca cerita mereka. Mau gak mau tetep aja harus nanggepin sesuatu. Jujur, gue sedikit males dan capek nanggepin curhatan-curhatan ini. Tapi kalo gue ngomong kayak gitu, nanti mereka gamau curhat sama gue lagi. Padahal kan gue bukannya gamau dengerin curhatan mereka, gue cuma butuh rehat sejenak aja dari dengerin masalah-masalah mereka. Karena ternyata, gue juga punya banyak masalah. Dan curhatan-curhatan mereka ini membuat gue ling-lung. Membuat gue jadi kehilangan fokus dari masalah gue sendiri. Gue jadi lupa kalo sebenernya gue juga mau curhat. Ujung-ujungnya semua masalah itu kependem di hati sampe busuk. Sampe sakit.

Medsos bukannya bikin hidup rame, malah bikin makin sepi dan jenuh. Hhhhh jaman sekarang orang jadi lupa kalo sebenernya human connection lebih fun daripada internet connection.

Berhubungan dengan orang lain itu emang susah ya. Sekarang gue ga akan heran lagi kalo ada orang yang anti-social. Mungkin sebenernya hidup mereka lebih mudah dan nikmat karena ga harus berhubungan dengan orang lain yang kebanyakan ga sejalan dan ga sepemikiran sama kita. Ga harus susah payah nyape-nyapein diri sendiri untuk ngertiin orang lain. Ga harus susah payah ngorbanin perasaan demi orang lain. Gue tau ini egois, tapi sumpah, gue lagi capek dan males banget ngertiin orang. Gue lagi pengen dingertiin. Gue lagi pengen dimanja. Gue lagi butuh tempat bersandar.

Tau bagian yang paling sulit dari berhubungan dengan orang lain? Bagian pertemuan. Karena kata mbak Rara Sekar, setiap pertemuan adalah sebuah perangkap. Sebuah bom waktu yang dihiasi dengan bunga dan rindu. Walau sesungguhnya kita sepenuhnya sadar, pertemuan hanyalah sebuah perpisahan yang menunggu. See? Sangat sulit memulai sesuatu yang sudah jelas akan berakhir dengan kehilangan. Sangat sulit menjalin hubungan baik dengan orang lain, memberikan perhatian serta secuil hati kita untuk mereka, padahal kita tahu, pada akhirnya mereka akan pergi meninggalkan kita. Atau mungkin, malah kita yang akan pergi meninggalkan mereka. Yang bisa kita lakukan kalo udah kepalang basah dengan pertemuan ini yaaa cuma mempertahankan hubungan selama mungkin. Tapi kalo udah ga sejalan ya udah susah sih. Mau usaha gimanapun, tetep aja bakal pisah. Selain itu, hal yang bikin ngenes lagi adalah proses adaptasi dari kehilangan itu sendiri. Dari yang tadinya tiap hari berbagi cerita, sampe jadi kayak 2 orang yang terasa jauuuuuuuuh banget. Itu tuh kayak lo ngeliat orang itu dan mikir "I used to know him/her really well. But now? Uh-oh. It seems like we never know each other before." Beh sakitnya tuh di lubuk hati broh.

Oops. Gue sudah mulai mengeluh.

Tapi gue tetep bersyukur. Untunglah gue masih bisa merasakan kesepian dan rasa sakit karena hal-hal tersebut memanusiakan gue. Untunglah Tuhan gak lupa menciptakan sesuatu yang bernama kenangan dibalik semua kehilangan itu. Untunglah masih ada foto dan chat-history.

Terus gue nemu gitu kata-kata bagus dari tumblr seseorang yang intinya ga jauh-jauh dari posting-an blog gue yang "jika bisa bersyukur, kenapa harus mengeluh?":

Kehilangan mengajarkan kita arti memiliki. Kekecewaan mengajarkan kita arti berhati-hati. Kesepian mengajarkan kita arti kebersamaan. Percayalah! Dibalik setiap yang terjadi selalu ada hikmah yang bisa kita petik. Bukankah untuk menguatkan langkah ke depan terkadang kita harus mundur selangkah ke belakang? Kesalahan dan Kegagalan seharusnya membuat kita lebih kuat, lebih sabar, lebih bijaksana, lebih yakin bahwa semuanya akan lebih baik! Dan memang itulah harga mati dari sebuah proses menuju kedewasaan.

Hidup memang penuh pelajaran yang bermakna. Tuhan Maha Asyik.










Ini post udah super ngelantur kayaknya haha. Ya mau gimana lagi? Mau curhat sama siapa lagi? Mau berbagi sama siapa lagi? Emang bener kata kak Iwan Setyawan, menulis itu berfungsi untuk membunuh malam. Walaupun gaada teman berwujud nyata di depan mata, gue masih punya blog yang siap sedia menampung semua tulisan dan curhatan sampah gue. Gue cinta menulis *walaupun tulisannya suka gak worth reading:')*. Gue cinta malam. Setidaknya menulis di malam hari membantu gue untuk jujur terhadap diri sendiri. Like I said before, malam tidak pernah bohong. Karena sejatinya, malam selalu membawa kebijakan dan kejujuran.

8.8.14

Unexpected Journey

Perjalanan yang ga direncanakan emang selalu punya cerita yang membekas di pikiran dan hati deh. Ceritanya sih gue baru ngejalanin unexpected journey gitu kemaren sama temen-temen SD gue. Jadi waktu SD, gue punya semacem geng gitu. Ada gue, Wea, Tata, Anne, Ninik. Namanya geng devil...wkwk iya tau alay yaudahsih namanya juga anak sd:( Surprisingly, kita tetep aja deket dan ga lost contact walaupun smp sama sma nya nyebar2 sampe ada yang di bandung, magelang, jogja, segala macem. Nah, liburan ini kita mau ketemuan dan jalan2 lagi gitu setelah sekian lama. Rencana awal sih pengennya ke Dufan. Tapi karena berbagai macem pertimbangan lalala gajadi. Padahal sumpah, gue ngidam Dufan parah huft. Akhirnya yaudah deh kita memutuskan buat karaokean aja di Poins Square tanggal 24 Juli 2014 kemarin.

Jam 9 pagi gue baru bangun. Dan sendirian di rumah. Kalo gasalah tadi pas masih teler, bokap caw kerja, dan nyokap+adek pamit pergi ke pasar. Terus kaget pas liat grup line devil yang bilang kita kumpul jam 10 di Poins. Gue kirain jam 11-_- Yaudahkan tuh gue melek2 langsung kelabakan mandi segala macemnya. Kisruh hubungin Kuka minta dijemput. Intinya pas nyokap sampe rumah, gue udah rapih dan siap berangkat, nunggu jemputan. Kuka sampe rumah jam 10 lebih, yaudahlahya~ grup devil udah penuh sama selfie2 sampahnya Wea yang bete nunggu sendirian di Poins. Tp berhubung gue baik dan Wea emg udah wanti2 gaboleh share fotonya kemana2...yaudah ga gua share.

terus gue bales pake selfie gue di mobil kejebak macetzZzZz

Ceritanya mau pose bete krn macet. Tapi kurang koordinasi sama Kuka.

Malah kena marah sama Anne Tata, gegara mereka kira gue sama kuka naik motor. Kalo tau naik mobil, mereka mau nebeng dan gausah susah2 panas2an naik angkot WKWK sorideh kan mau berduaan ha ha-_- Setelah sampai di Poins dan dadah2an sama Kuka, gue ketemu sama cecunguk2 ini di deket tempat dvd gidu. Dan ternyata gue yang sampe terakhir. Wea beli beberapa dvd dan bilang kalo tempat karaokeannya tutup. Tetot. Terus tiba2 aja ada yang nyeletuk "Monas aja lah ayok". Celetukan itu nongol jam 12 dan kita baru caw dari Poins jam setengah 2an wkwk. Dari jam 12 itu kita nganter Ninik ngambil duit dulu, tp sebelum sampe di tempat ngambil duit banyak berhenti2nya gitu di tempat jualan dvd. Well, fyi, Poins itu isinya tempat jualan dvd semua. Jadi untuk mencapai ATM aja ga keitung kita berapa kali berenti buat liat dvd ini-itu. Habis Ninik ngambil duit, gue ijin shalat dulu sama mereka. Inget kan kalo mereka temen2 SD gue? Inget juga kan dulu gue SD di SD Katolik? Yak, jadi yang shalat ya cuma gue. Yang puasa juga cuma gue. Jadi puasa gue di hari itu ditemenin sama setan-setan kampret yang ga berenti2 ngomongin makanan:') Ga salah deh nama geng ini geng 'devil':')

Setelah rusuh nyasar dan nanya2 satpam 'musholla ada di sebelah mana pak?', akhirnya gue berhasil shalat dzuhur dengan selamat. Pas kelar shalat, gue nanya di grup line devil kan mereka lagi pada dimana. Eh gue malah dikirimin foto ini......

Setan bulan puasa.

Bangke emang. Mereka di AW. Yaudah gue nyusul kan ke AW. Terus pas mau naik eskalator, eh eskalatornya mati gitu. Dan diujung eskalator yang atas ada sendal crocs kejepit gt cuma sebelah + security yang motoin sendal itu kayak tempat kejadian perkara gt....yg gua bingung anak yang crocsnya kejepit kemana. Okelah gapenting. Sampe di AW, gue nemenin setan2 ini makan ngemil2 cantik gidu. Terus kita sok2an mau foto pake tongsis nya Ninik kan, eh belom sempet foto, holdernya udah patah duluan gara2 Anne. Siplah.

Akhirnya fotonya manual, gapake tongsis.
Jadilah kita habis makan di AW nemenin Anne nyari pengganti tongsisnya Ninik dulu. Makin lama aja kan tuh di Poins ora berangkat2.

Pukul setengah 2-an.....
Baru deh kita keluar dari Poins. Jalan dikit ke terminal dan voila! Jalan-jalan men dimulai! Kita naik trans jakarta dibayarin sama Wea. Dan ini pertamakalinya lho gue naik trans jakarta dari ujung ke ujung, dari lb.bulus ke harmoni. Ngelewatin terminal2 yang baru pertama kali gue denger namanya. Ngelewatin rumah nenek gue (baru sadar ternyata ke rumah nenek gue naik angkutan umum sangat gampang). Keliatan bgt anak rumahan gatau jalannya lah:(


Sesampainya di Harmoni, kita lanjut naik transjkt lagi, edisi gabisa duduk, tp deketsih. Dan sampailah kita di terminal Monumen Nasional! CIHUY! Turun dari transjkt, kita ga langsung ke Monas karena terlalu excited ngeliat bis tingkat (city tour). Bis tingkat men bis tingkat!!!! Gue belom pernah naik bis tingkat!! Jadilah kita nyebrang ke halte depan Museum Nasional & Museum Gajah. Pas banget kita sampe di halte, pas juga city tour nya penuh dan berangkat. SIP DEH. Jadilah kita nunggu city tour berikutnya. Lama. Banget. Sampe bikin kita mikir, ini city tour cuma ada satu apa gimana.

Kesian anak tangsel nyasar di jkt:(
Andin-Anne-Wea-Tata-Ninik

Pas city tour dateng...senengnya banget222an! Sebenernya ada videonya nih di hape Wea huf. Video norak-krn-baru-pertama-kali-naik-bis-tingkat. &sumpah...THIS IS AWEZUMMM! Call me kampungan, but I ain't gonna give a god-damn shit. Ini bener2 fun:'D Yaudahlahya besok2 gabakal ketemu juga sama orang2 yang ngeliat kenorakan kita haha.

BIS TINGKAT MEN!!!!!
Tata-Ninik-Wea-Anne-Andin
Muka gue kayak eek.
muka ninik kayak eek.
muka wea kayak eek.

Udah jam 3an dan kita masih aja norak2an di atas city tour. Jakarta super macet, jadi ya kita ga kelar2 tour nya haha. Kita lewat depan masjid istiqlal gidu dan gue bilang "eh gua kudu shalat ashar". Terus yang lain kayak "turun nih? turun yuk!!". Dan kita pun turun. Sekali lagi, gue seneng. SHALAT DI ISTIQLAL MEN! Sekali lagi, gue norak. Kayaknya baru kali ini deh gue shalat di istiqlal:') Terus gue ter-amaze gitu ini masjid gede parah. Sampe-sampe gue sangsi, entar gue nyasar lagi di dalem. Yaudahkan gue ngajak cecunguk2 itu masuk. Eh mereka gamau....sial-_- jadi mereka nunggu di luar masjidnya gitu deh gue masuk sendiri. Habis nitipin sepatu, gue celingak-celinguk bego gt kan ke tempat wudhu nya. Terus naik ke atas ke tempat shalat. Dan gue sukses makin celingak-celinguk bego. Anjir ini mana mukena2 berserakannya....gue kan gabawa mukena-_- Sampe pada akhirnya ada yang ngomong pake mic gt kayak pengumuman2 gt ngasih tau tempat peminjaman mukena tuh ada dimana+bilang untuk jemaah cewek kudu pake mukena di area shalat. Tetot. Gue di area shalat. Dan boro-boro mukena, kerudung pun gue ga make-_- Jadilah gue buru2 keluar dari area shalat dan nyari tempat peminjaman mukena. Setelah dapet baru deh gue make mukena di 'tempat-memakai-mukena' yang ada di sebrang area shalat. Yey jadi gue ga saltum lagi di area shalatnya. Terus pas gt kan pas gue dateng pake mukena pas shalat berjamaahnya baru mau dimulai. Jadi di istiqlal ini ada security nya gitu di area shalatnya. Wow men. Jadi doi yang kayak nyuruh ngerapetin shaf sama ngasih tau kalo shalat berjamaah mau dimulai gidu. Sumpah....subhanallah bangetlah bisa shalat disini. Nyaman bgtbgtbgt dan keren abis. Kayak....rasanya tuh beda aja. Terharu sendiri bisa sampe sini ngebolangnya:') Setelah kelar shalatnya gue turun dan nemuin anak2. Terharu juga mereka mau nungguin gue shalat:') Dan kata2 pertama yang mereka tanyain ke gue adalah : "lo nyasar ya ndin di dalem?". Iya...iya gue emg sempet nyasar wk-_- Dan yang selanjutnya dibilang adalah : "gue denger tuh tadi pengumumannya kudu pake mukena gtgt kan...untung kita kaga masuk ntar disuruh pake mukena" WKWK aya aya wae.

Habis bolang religius versi islami, kita nyebrang ke Gereja Katedral untuk religius edisi katolik. Gantian men~ Sumpah ya, gereja ini emang keren banget. Dari luar aja udah keren banget bangunannya. Waktu TK gue pernah sih kesini buat lomba mewarnai. Tp jelas aja udah lupa. Jd sekarang istilahnya ya pertamakalinya gue ke Katedral pas udah gede dan udah ngerti. Awalnya kita ragu gitu mau masuk ke dalem. Karena kata Anne kayaknya kalo masuk kudu pake baju berkerah gt. Dan kita semua makenya kaos. Tapi krn gue super penasaran dalemnya kayak gimana, jadilah Tata sama Ninik nemenin ke dalem. Dan...damn. Dalemnya keren-abis-abisan-sumpah-ga-boong. Bangunan lama yang keren bgtlah. Pas ninik sama tata berdoa, gue muter2in pala ga berenti2 ter-amaze sama bangunan ini, altarnya, lukisan2nya, orgen jadulnya yang superduper gede. Pas gue Tata Ninik mau keluar...ehhh si Wea sama Anne malah masuk. Yaudah kita nongkrong(?) lbh lama di dalem. Gue baru ngeh juga di deket pintu masuk itu ada semacem wastafel (gatau gmn mendeskripsikannya) tapi tanpa kran gitu. Di dalemnya ada air yang kata Anne sih itu air suci gitu. Jadi pas masuk gereja, jarinya dicelupin ke air itu terus baru bikin tanda salib. Yaaa air suci nya macem air zam zam gitulah ya kalo di Islam.

Cie.
iya tau gue norak. iya iya.

ITU ORGEN YANG GEDE BGT!

Terus gue baru sadar gitu...tadi kan di Istiqlal gue belom foto. Eh anak2 malah cengar-cengir. Mereka udh foto duluan. Sial. Yaudah kan gue ga terimalah masa gue doang yang belom foto. Jadi kita nyebrang lagi ke Istiqlal cuma buat nemenin gue foto. WK bego:(

kurang ajar mereka foto duluan.
bt mereka foto duluan.
bt.
BETE WOI.
Gue yang telat selfie.

Karena di rasa udah sore, jadilah kita memutuskan untuk balik ke monas. Kita nungguin city tour lagi di halte. Dan seperti sebelumnya, lama abis. Gue bisa liat temen2 gue udah gakuat kepanasan dan keausan. Sebenernya kalo diliat-liat, pas lagi bulan puasa gini yang paling kasian ya orang-orang minoritas (baca : non-muslim) yang ga puasa. Serba salah gitu. Mereka mau ngehormatin yang puasa, tapi kan mereka ga terbiasa puasa dan butuh makan-minum juga. Yaudah kan tuh, akhirnya kita beli minuman di pinggir jalan. Beli minumnya cuma 1 buat ramean. Terus tiap satu orang minum, yang lain ngiterin buat nutupin yang minum. Agak tolol juga sih kalo diliat orang lain, ini orang-orang pada ngapain coba.

Setelah beberapa lama, city tour nya dateng. Terus pas sampe di halte depan Museum Nasional, kita nyebrang kan tuh. Begonya, krn kita gatau pintu masuknya dimana, kita malah ngiterin luarnya monas sampe jauuuuuuuh banget. Dan malah masuk lewat gerbang yang banyak polri nongkrongnya gitu. Salah pintu masuk dah intinya. But who cares, yang penting sampe monas!!!!

Iya tau gue sok iye.
Cie depan monas.
MONASNYA ILANG!
Ini difotoin sama mba-mba yang ada di Monas. Kayaknya doi bakat jd tukang foto polaroid.

Terus kita....ehem, gue...buka puasa di depan Monas deh. Mission accomplished. YUHUUU. Habis minum2 bentar, kita ngaso gitu depan Monas sambil makan somay menikmati senja tsah. Romantis. Gak deng gak romantis. Soalnya gue disuruh nraktir somaynya, jadi ga romantis. Banyak banget yang jualan2 cantik di depan Monas. Ada badut2 yang nawarin foto bareng tapi hbs itu minta dibayar. Badutnya dari yang bentuk tradisional macem ondel-ondel sampe bentuk harajuku macem Naruto juga ada. Lengkap men. Banci kecrek-kecrek juga ada. Terus lagi-lagi gue minta ditemenin berburu musholla di Monas. Selesai shalat, baru deh kita caw dan memutuskan untuk pulang karena udah pada capek dan pegel2 juga kakinya. Dan harus gue akui, this is way much better than Dufan.

Terus...gue juga pegel ngetik cerita ini. Udahan ah wk.

Btw, sayang kalian woi! Gue 100% bakal ngangguk tanpa mikir deh kalo diajakin ngebolang sama kalian lagi. Kalo kata orang sih, true friendship isn't about being inseparable, it's being separated and nothing changes. Much love!! xoxo

ngebolang kali ini disponsori oleh transjakarta.

Wassalam.

10.7.14

"Aku menginginkan seseorang yang mau duduk bersamaku di atas rooftop pada pukul 2 dini hari. Memberitahuku lagu kesukaan mereka, masalah keluarga mereka, serta pendapat mereka tentang bagaimana bumi ini terbentuk.

Menikmati malam dan langit penuh bintang.

Larut bersamaku yang jatuh cinta kepada malam. Karena sejatinya, malam selalu membawa kebijakan dan kejujuran, tidak ada yang ditutupi. Itulah kenapa obrolan tengah malam selalu menyenangkan dan tak ternilai harganya.

Larut bersamaku yang jatuh cinta kepada langit penuh bintang yang memabukkan. Pemandangan yang jatuh dari surga. Menghisapku. Membawaku tenggelam dalam keindahan."